Aku tinggal bersama kakakku, kak Novem. Orang tua kami telah berpulang ke rahmat Tuhan ketika usiaku menjelang 4 tahun. Padahal ketika itu kami masih sangat membutuhkan mereka. Tapi Tuhan telah rindu pada mereka, untuk menidurkan mereka di pangkuan-Nya. Kami relakan semua itu, bukankah yang berasal dari-Nya akan kembali pada-Nya.
Sebenarnya aku sendiri tidak cukup tahu apa yang terjadi ketika itu. Aku teramat kecil untuk tahu segalanya. Aku sering mendengar kakak bercerita tentang kepergian mereka. Sejak saat itu aku tak pernah lagi bersama mereka. Bahkan sampai hari ini.
Sekarang kak Novem berperan sebagai Ayah sekaligus sebagai Ibu untukku. Kami memang tak punya sanak saudara di Indonesia. Mereka semua tinggal di Amerika. Ya bisa di bilang kami blasteran Indo-Amerika. Ayah kami asli Amerika, sedang ibu kami asli orang Indonesia. Kak Novem sayang aku melebihi segalanya. Ketika kecil sering kali aku diajak bermain setelah ia usiai berkampus. Sekarang kakak sudah bekerja, kakaklah yang sekarang memegang perusahaan peninggalan almarhum ayah. Di tengah kesibukannya bekerja, masih saja kakak meluangkan waktunya untuk bermain denganku. Tapi terkadang kalau kakak benar-benar sibuk hanya bik May yang menemaniku di rumah.
Walaupun jauh dari keluarga di Amerika, komunikasi kami tak pernah putus. Paman John, adik kandung ayah, selalu menanyakan kabar kami. Pernah beliau meminta kami tinggal bersama mereka di Amerika. Kakak menolaknya, bukan karena tak mau. Tapi karena kak Novem tak mau meninggalkan perusahaan ayah, selain itu kakak punya alasan khusus, kakak ingin membahagiakan aku hingga aku lulus sekolah nanti. Itulah kak Novem, selalu punya prinsip yang tegar.
Waktu terus berjalan. Aku mulai menginjak remaja. Aku mulai tergiur oleh kemilaunya dunia kebebasan. Sekolah sering bolos. Ikut balapan liar para geng jalanan. Bahkan sempat juga aku terjerumus kedalam dunia narkoba. Entahlah apa yang ku pikirkan saat itu, semu apa yang di ajarkan kakak selama ini seperti terhapus dari ingatanku. Hingga akhirnya aku mendapatkan ganjaran dari semua yang ku lakukan itu. Tapi lagi-lagi kak Novem dengan kasih sayangnya kembali membimbingku kejalan yang benar. “Maaf kak…., Zuky sudah mengecewakan kakak” Hanya itu yang bisa ku ucapkan untuknya. Hanya senyum yang bisa ku lihat di bibirnya, meskipun aku tahu kakak sebenarnya kecewa.
Mulai saat itu aku berubah, aku kembali menjadi Zuky yang dulu, ya menjadi seorang adik yang nurut pada kakaknya. Ingin sekali rasanya aku dapat membahagiakan kakak. Semua niatku itu selalu saja terhalang kesibukan kerjanya. Mungkin dengan meraih kesuksesan Ujian Nasionalku, aku bisa membahagiakan dan dapat membanggakan kakak, pikirku dalam hati.
Sebagai adik aku paham kesibukan kakak. Sudah beberapa minggu ini kakak lembur. Sering pulang larut malam, dan berangkat pagi-pagi. Bisa di katakan waktu bersama kami semakin menyusut. Bik May selalu bilang padaku, kalau apa yang kak Novem lakukan adalah demi diriku.
“Melamun, Zuk !”, sapa sebuah suara yang sangat aku kenal. Aku menoleh, tampak kak Novem tersenyum padaku.
“tumben kakak pulang cepat?”, tanyaku pada kakak sambil ku cium tangannya.
“Iya dik, kakak sedang gak enak badan”, sahut kakak, sembari merebahkan badannya di sofa.
“Aden kenapa lagi?”, Tanya bik May, sambil mengambil koper kakak.
“Bibik buatin teh panas ya den?”, twaran bik May.
“Gak usah bik, terimakasih”, sahut kakak yang tampak kelelehan.
“Pusing lagi ya kak? Sakitnya kayak dulu lagi ya kak?”, tanyaku dengan rasa cemas.
“tau juga ni dik, besok biar kakak pergi ke dokter aja, paling Cuma kecapekan”
“ya udah, mendingan kakak istirahat aja. Ehm, tapi besok ke dokternya Zuky ikut ya kak?”
“Gak usah dik, kamu kan besok harus les. Kan seminggu lagi kamu Ujian Nasional. Jangan gara-gara kakak adik gak konsen ngadepi UN… he..he”, jawab kakak enteng.
Ya itulah kakak, tak mau merepotkan orang lain, termasuk aku, adiknya sendiri. Seketika itu ku peluk kakak dengan rasa haru, sudah lama aku tak merasakan kehangatan pelukan kakak. Malam itu kak Novem memintaku menemaninya bercerita sebelum ia lelap tertidur dari kecapekannya. Kami berbincang tentang kemana aku akan ngelanjutin sekolah. Aku ingin kuliah di China, Itulah jawabanku padanya. Kakak hanya mengiyakan sebelum benar-benar tertidur. Terima kasih kakak, ku ucap lirih “aku sayang kakak” di telinganya. Ku cium keningnya, dan ku tutupkan selimut ditubuhnya. Akupun tertidur lelap di sampingnya.
Ujianpun tiba, aku cukup senang karena kakak selalu menemaniku belajar. Minggu ini kakak memang sering pulang lebih awal, mengingat pesan dokter minggu lalu bahwa kakak harus lebih banyak istirahat dan cross ceck ke dokter. Ujianpun selesai, beberapa minggu berikutnya adalah hari pengumuman.
“LULUS,,,,,LULUS,,,, alhamdulillah” ya aku lulus. Kakak yang mendampingiku waktu itu merasa bangga dan senang, aku termasuk dalam daftar tiga besar paralal terbaik jurusan IPA Imersi di sekolah. Aku merasa senang, dalam hati aku marasa bahagia karena sudah membahagiakan kak Novem dengan meraih sukses UN.
Sebagai hadiah keberhasilanku, kakak mengijinkan aku untuk kuliah di China. Aku senang sekali, berbagai test penerimaan saringan masuk perguruan tinggi China aku ikuti. Dan akhirnya aku di terima, tapi tinggal satu syarat yang harus aku penuhi, menjalani test terkhir di China. Kakak mengijinkanku mengikuti test itu. Singkat waktu, aku sudah berada di negeri bambu kuning itu. Walaupun dengan berat hati meninggalkan kakak yang sedang sakit. Waktu berlalu, dan test pun usai, tinggal menunggu pengumuman.
Kak Novem koma……
Ku dengar berita itu dari bik May. Deg…deg….,jantungku serasa mau berhenti. Tanpa pikir panjang aku kembali ke Indonesia. Aku langsung menuju Rumah Sakit, tempat kakak dirawat. Tetesan air mataku mulai meleleh berjatuhan. Ku lihat paman John sudah di sana. Hatiku semakin pilu ketika ku lihat paman menangis, termasuk bik May.
“Di mana kak Novem paman…?bagaimana dengan kakak paman?”, tanyaku pada paman. Tapi paman hanya diam tanpa kata.
“Bik,,,, bagaimana keadaan kakak bik?”, tanyaku pada bik May.
“Den….den Novem den….”, jawab bik May dengan berurai air mata.
Aku langsung masuk, terlambat….terlambat…..
“Kakak…..”, teriakku saat ku melihat kakak yang terbaring tanpa nafas lagi. Innalillahi wa inna’ilaihi ra ji’un…..kakak sudah pergi. Aku mendekati kakak. Ku peluk tubuhnya yang dingin. Air mata yang ku bendung sejak tadi akhirnya tumpah juga. Aku kehilangan dia, aku kehilangan kak Novem, aku kehilangan kakak yang ku sayangi……
Dalam prosesi pemakaman kakak, aku masih belum percaya kalau aku benar-benar kehilangan kakakku. Dalam benakku, “Tuhan tidak adil. Dulu Engkau ambil orang tuaku, kini Engkau ambil kakakku. Kenapa Tuhan, kenapa…..???”. tangisankupun memecah keheningan siang itu. Paman berusaha membujukku pulang, tapi aku menolaknya. Aku ingin sendiri bersama kakak, aku ingin menemaninya sebentar…. Aku ingin melihat kakakku untuk yang terakhirkali. Kakak….
Beberapa hari kemudian paman menyerahkan surat yang ditinggalkan kakak untukku.
Untuk Zuky, adikku….
Adik…
Mungkin tak pantas ku panggil kau adik, di usia beliamu kau telah menjadi lebih dewasa dibandingkan aku. Kau , dengan cobaan yang menghampirimu
Tegar dengan gelak tawamu, pandang masa depan tanpa takut menyerang, tanpa sedih di malam mengerang
Ya, katakan saja kau berani, bagimu nikmat melawan duri, katakan kecerahan sedang menanti. Masa depan terlonjak gembira menunggu kau hampiri
Dik…
Allah percaya padamu dewasa lebih dini
Allah sandangkan perisai, Allah temani kau hingga usai
Aku…
Aku disini, coba terbangkan hati tuk sekedar cicipi kalbumu yang suci, kalbu yang tak pernah sepi hingga waktu berhenti.
Dik…
Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah seorang kakak, hanya doa, semangat,dan nasihat yang mampu aku berikan,
Kakak selalu berharap, disetiap sujudku pada-Nya, disetiap tetesan air mataku dan hembus napasku.. adik bisa bahagia, adik bisa jadi diri adik, dan adik bisa jadi ikan laut yang tawar padahal dia hidup di air asin.
Selamat tinggal adikku, ayah dan ibu sudah menungguku.
Semoga berhasil, raihlah impianmu….dan percayalah suatu saat kita akan bersama lagi, karena berpisah itu untuk dipersatukan lagi…
Selamat tinggal adikku sayang…..
Novem Arrijal
Aku sangat terharu dengan apa yang kak Novem tulis untukku, ya kak aku akan selalu mengingat pesan kakak….aku menangis….
Sebulan kemudian aku dan bik May pindah ke Amerika, tinggal bersama paman John. Dalam perjalanan bik May menceritakan semua tentang penyakit kakak, kangker otak. Sebenarnya bibik sudah tahu sejak lama, tapi kakak selalu melarang bibik untuk bercerita padaku, kakak takut membuatku bersedih. Kakak memang benar-benar sayang padaku, penyakitnya saja dia tak mau memberitakukan padaku. Bahkan dalam surat yang ia tulispun kakak tak mengatakan sejujurnya tentang penyakitnya… terimakasih kakak, akan ku simpan surat itu selamanya.
Aku tetap kuliah di China, sebulan sekali aku pulang ke Amerika, tak lupa ku kunjungi makam kakak. Aku selalu bercerita di atas nisan kakak, setiap apa yang ku kerjakan dalam bangku kuliah. Aku ingin dia tahu bahwa aku sudah berhasil, aku sudah menggapai cita-citaku… aku yakin kakak bangga dan senang. Tersenyumlah untukku kakak. Kupandangi nisan kakak, aku sayang kakak.. hiduplah dengan damai bersama ayah dan ibu disana….. cinta kakak akan tetap tinggal bersamaku, hingga akhir hayatku, dan setelah kematian hingga tangan Tuhan menyatukan kami lagi…..
Sebenarnya aku sendiri tidak cukup tahu apa yang terjadi ketika itu. Aku teramat kecil untuk tahu segalanya. Aku sering mendengar kakak bercerita tentang kepergian mereka. Sejak saat itu aku tak pernah lagi bersama mereka. Bahkan sampai hari ini.
Sekarang kak Novem berperan sebagai Ayah sekaligus sebagai Ibu untukku. Kami memang tak punya sanak saudara di Indonesia. Mereka semua tinggal di Amerika. Ya bisa di bilang kami blasteran Indo-Amerika. Ayah kami asli Amerika, sedang ibu kami asli orang Indonesia. Kak Novem sayang aku melebihi segalanya. Ketika kecil sering kali aku diajak bermain setelah ia usiai berkampus. Sekarang kakak sudah bekerja, kakaklah yang sekarang memegang perusahaan peninggalan almarhum ayah. Di tengah kesibukannya bekerja, masih saja kakak meluangkan waktunya untuk bermain denganku. Tapi terkadang kalau kakak benar-benar sibuk hanya bik May yang menemaniku di rumah.
Walaupun jauh dari keluarga di Amerika, komunikasi kami tak pernah putus. Paman John, adik kandung ayah, selalu menanyakan kabar kami. Pernah beliau meminta kami tinggal bersama mereka di Amerika. Kakak menolaknya, bukan karena tak mau. Tapi karena kak Novem tak mau meninggalkan perusahaan ayah, selain itu kakak punya alasan khusus, kakak ingin membahagiakan aku hingga aku lulus sekolah nanti. Itulah kak Novem, selalu punya prinsip yang tegar.
Waktu terus berjalan. Aku mulai menginjak remaja. Aku mulai tergiur oleh kemilaunya dunia kebebasan. Sekolah sering bolos. Ikut balapan liar para geng jalanan. Bahkan sempat juga aku terjerumus kedalam dunia narkoba. Entahlah apa yang ku pikirkan saat itu, semu apa yang di ajarkan kakak selama ini seperti terhapus dari ingatanku. Hingga akhirnya aku mendapatkan ganjaran dari semua yang ku lakukan itu. Tapi lagi-lagi kak Novem dengan kasih sayangnya kembali membimbingku kejalan yang benar. “Maaf kak…., Zuky sudah mengecewakan kakak” Hanya itu yang bisa ku ucapkan untuknya. Hanya senyum yang bisa ku lihat di bibirnya, meskipun aku tahu kakak sebenarnya kecewa.
Mulai saat itu aku berubah, aku kembali menjadi Zuky yang dulu, ya menjadi seorang adik yang nurut pada kakaknya. Ingin sekali rasanya aku dapat membahagiakan kakak. Semua niatku itu selalu saja terhalang kesibukan kerjanya. Mungkin dengan meraih kesuksesan Ujian Nasionalku, aku bisa membahagiakan dan dapat membanggakan kakak, pikirku dalam hati.
Sebagai adik aku paham kesibukan kakak. Sudah beberapa minggu ini kakak lembur. Sering pulang larut malam, dan berangkat pagi-pagi. Bisa di katakan waktu bersama kami semakin menyusut. Bik May selalu bilang padaku, kalau apa yang kak Novem lakukan adalah demi diriku.
“Melamun, Zuk !”, sapa sebuah suara yang sangat aku kenal. Aku menoleh, tampak kak Novem tersenyum padaku.
“tumben kakak pulang cepat?”, tanyaku pada kakak sambil ku cium tangannya.
“Iya dik, kakak sedang gak enak badan”, sahut kakak, sembari merebahkan badannya di sofa.
“Aden kenapa lagi?”, Tanya bik May, sambil mengambil koper kakak.
“Bibik buatin teh panas ya den?”, twaran bik May.
“Gak usah bik, terimakasih”, sahut kakak yang tampak kelelehan.
“Pusing lagi ya kak? Sakitnya kayak dulu lagi ya kak?”, tanyaku dengan rasa cemas.
“tau juga ni dik, besok biar kakak pergi ke dokter aja, paling Cuma kecapekan”
“ya udah, mendingan kakak istirahat aja. Ehm, tapi besok ke dokternya Zuky ikut ya kak?”
“Gak usah dik, kamu kan besok harus les. Kan seminggu lagi kamu Ujian Nasional. Jangan gara-gara kakak adik gak konsen ngadepi UN… he..he”, jawab kakak enteng.
Ya itulah kakak, tak mau merepotkan orang lain, termasuk aku, adiknya sendiri. Seketika itu ku peluk kakak dengan rasa haru, sudah lama aku tak merasakan kehangatan pelukan kakak. Malam itu kak Novem memintaku menemaninya bercerita sebelum ia lelap tertidur dari kecapekannya. Kami berbincang tentang kemana aku akan ngelanjutin sekolah. Aku ingin kuliah di China, Itulah jawabanku padanya. Kakak hanya mengiyakan sebelum benar-benar tertidur. Terima kasih kakak, ku ucap lirih “aku sayang kakak” di telinganya. Ku cium keningnya, dan ku tutupkan selimut ditubuhnya. Akupun tertidur lelap di sampingnya.
Ujianpun tiba, aku cukup senang karena kakak selalu menemaniku belajar. Minggu ini kakak memang sering pulang lebih awal, mengingat pesan dokter minggu lalu bahwa kakak harus lebih banyak istirahat dan cross ceck ke dokter. Ujianpun selesai, beberapa minggu berikutnya adalah hari pengumuman.
“LULUS,,,,,LULUS,,,, alhamdulillah” ya aku lulus. Kakak yang mendampingiku waktu itu merasa bangga dan senang, aku termasuk dalam daftar tiga besar paralal terbaik jurusan IPA Imersi di sekolah. Aku merasa senang, dalam hati aku marasa bahagia karena sudah membahagiakan kak Novem dengan meraih sukses UN.
Sebagai hadiah keberhasilanku, kakak mengijinkan aku untuk kuliah di China. Aku senang sekali, berbagai test penerimaan saringan masuk perguruan tinggi China aku ikuti. Dan akhirnya aku di terima, tapi tinggal satu syarat yang harus aku penuhi, menjalani test terkhir di China. Kakak mengijinkanku mengikuti test itu. Singkat waktu, aku sudah berada di negeri bambu kuning itu. Walaupun dengan berat hati meninggalkan kakak yang sedang sakit. Waktu berlalu, dan test pun usai, tinggal menunggu pengumuman.
Kak Novem koma……
Ku dengar berita itu dari bik May. Deg…deg….,jantungku serasa mau berhenti. Tanpa pikir panjang aku kembali ke Indonesia. Aku langsung menuju Rumah Sakit, tempat kakak dirawat. Tetesan air mataku mulai meleleh berjatuhan. Ku lihat paman John sudah di sana. Hatiku semakin pilu ketika ku lihat paman menangis, termasuk bik May.
“Di mana kak Novem paman…?bagaimana dengan kakak paman?”, tanyaku pada paman. Tapi paman hanya diam tanpa kata.
“Bik,,,, bagaimana keadaan kakak bik?”, tanyaku pada bik May.
“Den….den Novem den….”, jawab bik May dengan berurai air mata.
Aku langsung masuk, terlambat….terlambat…..
“Kakak…..”, teriakku saat ku melihat kakak yang terbaring tanpa nafas lagi. Innalillahi wa inna’ilaihi ra ji’un…..kakak sudah pergi. Aku mendekati kakak. Ku peluk tubuhnya yang dingin. Air mata yang ku bendung sejak tadi akhirnya tumpah juga. Aku kehilangan dia, aku kehilangan kak Novem, aku kehilangan kakak yang ku sayangi……
Dalam prosesi pemakaman kakak, aku masih belum percaya kalau aku benar-benar kehilangan kakakku. Dalam benakku, “Tuhan tidak adil. Dulu Engkau ambil orang tuaku, kini Engkau ambil kakakku. Kenapa Tuhan, kenapa…..???”. tangisankupun memecah keheningan siang itu. Paman berusaha membujukku pulang, tapi aku menolaknya. Aku ingin sendiri bersama kakak, aku ingin menemaninya sebentar…. Aku ingin melihat kakakku untuk yang terakhirkali. Kakak….
Beberapa hari kemudian paman menyerahkan surat yang ditinggalkan kakak untukku.
Untuk Zuky, adikku….
Adik…
Mungkin tak pantas ku panggil kau adik, di usia beliamu kau telah menjadi lebih dewasa dibandingkan aku. Kau , dengan cobaan yang menghampirimu
Tegar dengan gelak tawamu, pandang masa depan tanpa takut menyerang, tanpa sedih di malam mengerang
Ya, katakan saja kau berani, bagimu nikmat melawan duri, katakan kecerahan sedang menanti. Masa depan terlonjak gembira menunggu kau hampiri
Dik…
Allah percaya padamu dewasa lebih dini
Allah sandangkan perisai, Allah temani kau hingga usai
Aku…
Aku disini, coba terbangkan hati tuk sekedar cicipi kalbumu yang suci, kalbu yang tak pernah sepi hingga waktu berhenti.
Dik…
Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah seorang kakak, hanya doa, semangat,dan nasihat yang mampu aku berikan,
Kakak selalu berharap, disetiap sujudku pada-Nya, disetiap tetesan air mataku dan hembus napasku.. adik bisa bahagia, adik bisa jadi diri adik, dan adik bisa jadi ikan laut yang tawar padahal dia hidup di air asin.
Selamat tinggal adikku, ayah dan ibu sudah menungguku.
Semoga berhasil, raihlah impianmu….dan percayalah suatu saat kita akan bersama lagi, karena berpisah itu untuk dipersatukan lagi…
Selamat tinggal adikku sayang…..
Novem Arrijal
Aku sangat terharu dengan apa yang kak Novem tulis untukku, ya kak aku akan selalu mengingat pesan kakak….aku menangis….
Sebulan kemudian aku dan bik May pindah ke Amerika, tinggal bersama paman John. Dalam perjalanan bik May menceritakan semua tentang penyakit kakak, kangker otak. Sebenarnya bibik sudah tahu sejak lama, tapi kakak selalu melarang bibik untuk bercerita padaku, kakak takut membuatku bersedih. Kakak memang benar-benar sayang padaku, penyakitnya saja dia tak mau memberitakukan padaku. Bahkan dalam surat yang ia tulispun kakak tak mengatakan sejujurnya tentang penyakitnya… terimakasih kakak, akan ku simpan surat itu selamanya.
Aku tetap kuliah di China, sebulan sekali aku pulang ke Amerika, tak lupa ku kunjungi makam kakak. Aku selalu bercerita di atas nisan kakak, setiap apa yang ku kerjakan dalam bangku kuliah. Aku ingin dia tahu bahwa aku sudah berhasil, aku sudah menggapai cita-citaku… aku yakin kakak bangga dan senang. Tersenyumlah untukku kakak. Kupandangi nisan kakak, aku sayang kakak.. hiduplah dengan damai bersama ayah dan ibu disana….. cinta kakak akan tetap tinggal bersamaku, hingga akhir hayatku, dan setelah kematian hingga tangan Tuhan menyatukan kami lagi…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ada masukan? Silakan Tulis disini, Thanks ^_^